Ternyata
Saturday December 27th 2008, 7:49 pm
Filed under:
my poem
Ternyata,
sudah cukup lama hati tidak menyapa
Dan untuk kesekian kalinya
Semalam,
bersama bulan ku coba mendatangimu
Hanya untuk sekedar menyapa, “Hai…”
Uhmmm…
meski bulan hanya tinggal seperempatnya sih,
tapi itu kubawakan khusus untuk kamu
Ternyata,
sudah lama juga kamu ingin datang
juga hanya sekedar ingin menyapa
Bersama bulan juga kah?
Tidak usah, terima kasih, aku sudah punya
Jika boleh meminta,
cukup dengan senyum di wajah lucu mu itu saja
biar bisa kulihat dan kudengar lagi
Dan dengan diterangi sinar bulan,
hmmm…sungguh pemandangan yang cantik
Ah, jadi membuat ku semakin rindu saja
Ternyata,
kita juga sama-sama ingin saling menyapa
Di saat-saat hal semacam ini,
kenapa selalu bisa bersamaan ya?
Journey To The West World
Wednesday July 23rd 2008, 2:46 am
Filed under:
jejak ku
Ini
cerita tentang perjalanan kemaren pas nganter Mbak Ipar (hmmm udah
gedhe masih minta dianter? Hehe…) ke tempat suami barunya (emang
ada yang lama? PIZZ… Iya baru sekali itu kok dan tetep sekali itu
aja lo yha! AWAS… Hehe…) yang notabene adalah Masku. Ya kalo gak
Masku ya gak ada, lha wong baru nikah, punya istri baru kok
ditinggal-tinggal. Kalo aku mah dah tak lipet-lipet biar bisa masuk
kantong hingga akhirnya bisa bibawa kemana aja kapan aja dalam
kondisi apa saja dan bermanfaat setiap dibutuhkan dan membutuhkan.
Loh…. Emang apa coba? He…
Yach
tapi kalo gak ada acara ini ya gak mungkin juga (mungkin tapi
probabilitasnya cuman 0,00009%) untuk piknik-piknik bareng lagi
setelah belasan tahun yang laluh. Alhamdulillahi robbil ‘alamin.
Hwehehe…
Ada
empat tokoh yang mendapat kehormatan untuk mengantarnya: first,
pastinya aku sebagai tokoh utama (selain Mbakku +egois plus narzis
mode ON+), kemudian adekku sebagai pemeran pembantu yang amat sangat
penting (ya iyalah, lha pegang-pegang dokumentasi tyus. Hee…)
kemudian Bapak-Ibu ku sebagai pemaran figuran yang juga amat sangat
penting (lha panjenengan kekalih mboten kerep terekam wonten ing our
childish journey sih. Hehe… -maafkan dosa anakmu ini yang
menganggap kalian hanya sebagai figuran. Semoga Gusti Allah
mengampuniku. Amin…)
In
the other words, ini adalah kisah perjalanan 4 punggawa kerajaan
mengantar seorang tuan putri agar bisa bersatu lagi dengan pangeran
ke kerajaan barunya di negeri seberang, di negeri barat. Negeri
gajah, kah? Hehe…
Tak kalah dengan The Felloships of The Ring-nya Frodo Bagins atopun Journey to The worl-nya Sun Go Kong. Hehehe
Goes
to Lampung…
Sebelumnya,
rombongan adalah termasuk orang-orang yang amat sangat jarang sekali
to take travelling for a long distance and for a long time. Jadi
banyak hal-hal aneh dan ganjil yang akan terjadi. Seperti mual-mual,
pusing, masuk angin dan mabok. Loh… (Ga mutu bangetz… Apalagi
aku) +_+
Here
it goes…
1st
day
Berangkat
jam 07.00 wib. Hmmm, belum-belum sudah naik bus, tapi dari empat
orang cuma dua orang yang naek bus, aku dan Bapak ku. Ibu dan adek
dianter naek kendaraan pribadi oleh sepupu. Dari rumah menuju bandara
sudah naik bus dan sepertinya sang sopir dulunya bercita-cita menjadi
pembalap tapi tak kesampaian. Dari gaya drifting, tancap gas kenceng
trus rem mendadak sampe zig-zag style pun ada (good acceleration, ha?
Damn). Untung ga ada gaya biking freestyler. Fyuuh… Dan semua itu
membuat kepala berputar-putar perut teraduk-aduk dan rasanya ingin
muntah. Untung ga jadi. Nyampe bandara jam delapan kurang. Kepala
masih berputar-putar. Setelah check-in kami nungguin untuk take off.
Just sitting down. Look around. More than an hour. ‘Till kademen.
^_^
11.00
we arrived at Soekarno-Hatta, Cengkareng. Next flight to Lampung was
on 19.00. Wew…it’s still a long time again. Rencana ingin sekedar
hang around Jakarta, maybe Cengkareng – Blok M – PIM - back again
to Cengkareng by DAMRI. Semangat ’45 sudah bersemayam dalam dada.
Tapi keinginan sebatas keinginan, salah satu anggota terkena –maybe
jetlag- badan ga bisa di ajak kompromi to hang around. Dan kami pun
tak bisa meninggalkannya sendirian sementara kami malah asik-asik
hang around. So, we just stayed at Cengkareng ‘till drop. Till the
next flight. Cuma berkeliling Cengkareng mpe pegel-pegel. Jalan sana
jalan sini. Muter sana muter sini. Duduk-duduk. Tiduran. It’s about
8 hours. Bener-bener kayak orang terlantar. Kasian. Tapi akhirnya
kami nikmatin aja. Tepat jam 19.00 kami meninggalkan Cengkareng.
Night flight. How beautifull it was. Melihat keluar lewat jendela
pesawat terlihat kerlip deret lampu kemacetan, deret lampu kota
terbesar di negeri ini. City light. Unforgetable moment.
Seakan-akan tak sia-sia kami nunggu 8 jam itu.
19.30
sudah gantian naik taksi menuju hotel kami di Lampung. Tapi masih
sekitar 40an menit lagi dan muka-muka letih sudah mule kliatan.
Tempat tidur yang empuk sudah terbayang-bayang saat taksi –hmm
lagi-lagi drifting di jalanan (again, good acceleration? Damnn… All
I wanted to do was throw up. And possibly pass out..). Hmmmm begini
ya kota Lampung…
Jam
20.00 lebih baru nyampe hotel. Dan pangeran negeri seberang yang
tidak lain adalah Masku sudah menyambut kami di depan hotel (kayaknya
ga ada sambutan deh ya… biasa…dan ga ada ekspresi. Dasaar… Apa
aku aja yang gak nyadar karena dah gak bisa konsen + ngurusin
barang-barang dari taksi? Masih menjadi tanda tanya… )
Setelah
selese bebenah kami pun makan malam dengan nasi goreng sea food.
Delicious… And it’s pretty good to threw up all the headache. And
then we took a rest… (Ehmm, akhirnya tuan puteri bisa bersama
pangeran lagi… Sementara kami berempat masih di hotel, mereka
berdua balik kandang mereka sendiri. Looohhh…)
2nd
day
Seperti
yang sudah-sudah, for the 1st time meniduri tempat tidur yang tidak
biasa bagiku bakalan ga nyenyak tidurnya, and yup it happened at last
nite. Jam lima udah bangun liat keluar jendela masih gelap. Ah, ntar
aja. Setengah jam kemudian bangun. Masih gelap. Tapi harus bangun
untuk sholat subuh. Abis itu ngebo lagi. Setengah tujuh bangun. Liat
keluar jendela. Masih gelap. Huh, perasaan udah setengah tujuh, kok
masih gelap. Penasaran. Akhirnya turun juga dari tempat tidur. Liat
keluar melalui koridor hotel. Jeng jeng jeng…ternyata matahari
sudah bersinar dengan terang. Masuk kamar lagi, buka jendela.
Ternyata di sebelah ada bangunan tinggi yang menyebabkan keadaan di
situ gelap terus. Day or nite! Dasaaar…
Jam
setengah sembilan, breakfast. Dengan menu nasi lontong. Kami berlima
balik ke kamar lagi (yup berlima, karena Mbakku bakalan menemani kami
selama di Lampung, pagi dah dateng ke hotel kemudian baru malamnya
balik lagi dijemput Mas).
Nothing
to do in that room. So, we walked out to look around the city. Tapi
jam dua belas harus sudah sampe lagi di hotel. Karena rencana abis
jam dua belas kami akan berkunjung ke tempat diamana Mbakku dan Masku
stay (untuk sementara dan dalam tempo yang belum bisa dipastikan).
Sebagai orang dari kerajaan Jawa beramah tamah adalah suatu hal yang
harus dilakukan. I think it’s juz formalization. Halah…
Kami
pergi keliling naik DAMRI yang ternyata sangat banyak di kota itu.
The 1st destination adalah mall, yup salah satu mall di kota itu.
Sebenarnya lil bit ashamed telling this. Ternyata kami datang terlalu
pagi beberapa stan masih tutup. Gubrak, sama beberapa pekerja nya aja
duluan kami. Ginilah nasib orang-orang ga ada kerjaan dan ga ada
tujuan yang jelas. Hehe… Kami putuskan untuk menunggu. Setelah mule
ramai kami pun masuk ke mall itu. Sekedar melihat-lihat. Tapi lebih
terkesan seperti sidak KPK saja. Liat sana liat sisni. Cek sana cek
sini. Pegang sana pegang sini. Dengan berbagai comment yang keluar
dari mulut kami. Bagus. Lumayan. Not bad. Gitu-gitu lah. Masak gitu
deh, mulan aja jamilah. Hehe… Ga penting… Jayuuuss…
Setelah
selese inspeksi mendadak di mall kami keluar nyari DAMRI lagi, entah
kemana tujuannya. DAMRI pun turun depan Ramayana, iseng-iseng masuk.
Dan lagi-lagi terkesan sidak dengan berbagai comment yang penting ga
penting itu. Yang berasa aneh tuh Ramayana cuma satu lantai, tapi
luaaaaas sekali. Dari jenis barang A mpe Z Cuma ada di satu lantai.
One way seeing. Itulah mengapa eskalator disana terkesan eksklusif.
Loh, ga nyambung…
Selese
dari Ramayana kami putuskan balik ke hotel. Juz because it’s seems
too short road, we decided to get there dengan naik kaki kami
sendiri-sendiri. Jalan kaki. Hah, jalan kaki? Yup suatu keputusan
yang pada akhirnya ku sesali hingga ku tak bisa tidur 3 hari 3 malem.
No matter. Lagi-lagi emang dasar ga ada kerjaan. But we enjoyed it.
In the middle of the road, ketika kaki kami sudah protes karena kerja
rodi kami itu, kami mampir ke warung bakso-mie ayam –yang katanya
paling enak di kota itu. Bakso Sonny, ya? Correct me if i’m wrong.
Sliuuuph…emang sih, uenaks.
Keluar
dari bakso Sonny –yang ternyata mahal euy, tapi kalo standar disini
ga tahu itu mahal pa kagak, yang jelas dibandingin di Jawa especially
Jogja 2 kali lipat lebih euy- kami lanjutkan perjalanan ke hotel.
Tapi mampir dulu ke Gramedia. Nyari-nyari buku buat gift. Karena
dalam perjalanan pulang dari negeri ini ingin mampir main ke suatu
tempat dulu (ada ceritanya sendiri nanti). Adzan dhuhur berkumandang
pas kami nyampe hotel lagi. Dan ternyata acara beramah tamah diundur
menjadi abis ashar. So we had a time to relax. To rest our leg.
Hehe…
Selese
sholat ashar kami langsung meluncur ke tempat pangeran tinggal dengan
sebuah taksi. Hmmm gara nyari taksi itu dapet kenalan nih. Sopir
taksi!!! Yang bakalan menemani perjalanan-perjanan kami berikutnya.
Wkwkwkwk
Menjelang
isya’ kami baru nyampe lagi di hotel. Mbak dan mas ku menyusul kami
tidak lama berselang. Setelah bersih-bersih kami makan malem bareng.
Dilanjut ngobrol-ngobrol hingga akhirnya kantuk dan lelah menyapa.
Nice moment. Hampir jam sebelasan malem kami mule rehat. Tuan puteri
dan pangeran sudah kembali lagi ke kediamannya…
Wait
for the next day…
3rd
day
It
was Thursday. Pagi-pagi sudah disambut hujan. Jam 08 lebih kami baru
mule ke lantai empat hotel untuk breakfast. Hmmm kali ini telat, menu
makanan sudah habis. Maklum pas lagi rame hotelnya, ada beberapa
instansi yang menginap di situ beberapa hari untuk diklat. Akhirnya
kami hanya bisa menunggu para koki prepared the next menus sambil
nge-teh dan ngobrol-ngobrol. Setelah selese sarapan kami balik kamar
dan ready to started the next journey. Yup. Tapi kali ini lumayan
terencana and had a definitely destination. Kampoeng Wisata Tabek
Indah! Sebuah taman wisata seperti bumi perkemahan yang dilengkapi
dengan penginapan, area out-bond (uhmm, the flying fox? yummy), kolam
renang dan waterboom, wew…

20-30
minutes we get there by taxi. Setelah nyampe di sana pertama kami
cuma jalan-jalan dulu, juz look around karena, lagi-lagi, masih
kepagian dan masih sepi. Tapi setelah lama kok tidak juga tidak
ramai. Akhirnya kami beraksi sendiri. Bermain-main (foto-foto
tepatnya dengan gaya sok action sok hebat gitu. Hehe…) di area
outbond. Yang paling bikin kecewa adalah tidak bisa menikmati
flyingfox-nya. Setelah cape sendiri kami pun rehatan sebentar di
sebuah gubuk sebelum melakukan aksi-aksi yang sebetulnya sih
memalukan bagi yang tidak bisa seperti diriku ini. He… Ssssst…
Yup setelah itu kami pun bermain air di kolam renang dan waterboom. I
don’t wanna tell you much bout this activity in that swimmingpool.
It was so ashamed for us. Hehe… Hampir dua jam-an kami di situ. And
our body was getting chilled. After we get dressed, we enjoyed some
cups of hot tea near the pool juz to warmed our body up. And then,
tepat jam 12 siang kami semua meninggalkan lokasi tersebut untuk
kembali ke hotel. Sebelumnya poto-poto dulu sama gajah. Hehe..

Kami
putuskan kembali ke hotel dengan naik DAMRI tapi harus ke terminal
Radjabasa dulu. Ke terminalnya harus naek angkot dulu dan naek
angkotnya harus kejalan raya. Berhubung lokasi wisata ke jalan raya
sekitar 300an meters harus naek kaki kami sendiri lagi dulu. Hehe…
Fyuhh.. Sepuluhan menit berjalan akhirnya nyampe jalan raya dan
langsung dapat angkot. Sebelumnya, juz FYI, angkot di kota Lampung
ini kalo boleh saya bilang ada dua kategori angkot. Yang pertama
angkot konvensional dan angkot gaul. Yang angkot konvensional,
standarlah, seperti angkot-angkot pada umumnya. Tidak macem-macem.
Berbalik 180 derajat dengan angkot kedua, yaitu angkot gaul. Dari
segi body saja full modif. Bemper gede, dashboard cihuy, knalpot wow,
suara menggelegar plus audio mobil super keren (apa norak ya…)
dengan speaker bikin seperti konser keliling (dan ternyata lagu-lagu
yang diputar cuma lagu-lagu K.A.N.G.E.N. B.A.N.D. dan
lagu-kontroversial-karena-cewek-yang-menyanyikan-bunuh-diri-setelah-menciptakan-lagu-itu-untuk-menyusul-pacarnya-yang-mati-duluan-yang-saya-tidak-tahu-judul-dan-nama-penyanyinya.
Hehe panjang sekali judulnya… Pokoknya itu lah…) Capek deh…
And
the most aggravating me was the driver. Again and again, they drive
like an drunken. Tapi kadang salut juga dengan skill mereka itu,
apalagi jika mendapat fasilitas dan tempat yang tepat. Pasti bakal
mengungguli Lewis Hamilton bahkan M. Schumacher! Bisa mengahrumkan
nama Indonesia. Damnn…
Back
to the story. Setelah naek angkot, kebetulan angkot konvensional yang
cukup nyaman itu, 10 menit kemudian kami nyampe di Terminal
Radjabasa. Niatnya ingin naik DAMRI tapi entah karena apa –yang
jelas aku menyesalinya kemudian- kami tiba-tiba saja sudah ada di
dalam angkot lagi, angkot gaul pulak. Shit.. Dari terminal ke kota
butuh sekitar 20an menit. Selama itu pula kami (mungkin khususnya
aku) di ajak ber drifting ria oleh angkot tersebut. Again, all I
wanted to do was throw up. And possibly pass out with this headache
and this sickening stomach. Yang bikin menjengkelakan lagi kami tidak
nyampai pada tempat tujuan yang semula ditawarkan. Yach apa daya,
karena belum tahu juga tentang jalur-jalur angkot disini. Akhirnya
Cuma mpe depan Ramayana. Dari Ramayana kami cuma bisa naek DAMRI. Dan
DAMRInya pun sudah oldish abis, mesin sudah agak ngadat, panas, penuh
sesak dan bau. Oh, my Godness. I won’t do it again.
Fiiuuhh..akhirnya
mpe hotel. Setelah sholat dan rehatan bentar kami –kali ini kami
sekeluarga, berlima, keluar lagi untuk makan. Tapi cuma di warung
deket hotel. Selese makan kami bertiga, yang dua kembali ke hotel,
pergi Gramedia -yang lagi-lagi deket hotel juga, untuk beli sebuah
buku. Akhirnya dapet sebuah buku. Divortiare-nya Ika Natasha. Nice
book to read. Renacananya sih ni buku buat gift, tapi gak jadi.
Someday I’ll tell you about this book. Sesampainya dari Gramedia
hari telah ashar. Setelah sholat rehatan bentar. Tapi gak bisa. Di
hotel sendirian. Iseng-iseng keluar cari warnet. Ee malah ketahuan
seseorang dari Jogja (eh kowe neng Jogja po isih neng Gombong po
negendi to, Fan? Coba kowe neng kene. Hehe…) dan seseorang di
Bandung. Akhire malah chating dah, mpe menjelang maghrib.

Setelah
maghrib. Lagi-lagi kami sekeluarga –berenam, Mas selalu menyusul
kami ke hotel setelah selese beraktivitas untuk ngumpul-ngumpul dan
menjemput tuan puterinya- kembali ngumpul. Kemudian kami berempat
aku, adekku, mas dan mbak keluar untuk makan. Di plaza Lotus (bener
ga itu namanya?) samping hotel juga, di sebuah semacem foodcourt
gitu, di lantai paling atas. Tempatnya open door. Keren. Bisa
nikmatin pemandangan di bawahnya. Menunya ada udang goreng, nila
bakar, capcay, nasi goreng sozzis. Plus kalo aku minumnya juz jambu
(ngingetin suatu tempat makan di Jogja).
Slese
makan kembali lagi ke hotel. Ngumpul-ngumpul lagi, ngobrol-ngobrol
lagi. Setelah itu rehat. Menunggu esok hari dengan petualangan seru
selanjutnya. (Kali ini aku sedikit terkena insomnia, padahal badan
sudah pegel-pegel… Dunno why… Lill’ bit mellow….)
4th
Day
Petualangan
hari keempat ini lebih tepatnya diberi judul “Looking for the
Elephants…”. Yup, Petualangan Mencari Gajah. Hehe…
Hari
di mulai dengan cuaca yang cerah. After we got breakfast, we went to
the Bumi Kedhaton Park. Semacam kebun binatang + konservasi flora
fauna gitu lah. Tapi petualangan kali ini bakalan cuma sebentar,
selain karena hari Jumat yang kata orang hari pendek, tapi juga
karena abis Jumatan kami sudah harus check out dari hotel untuk
gantian menginap di tempat masku. Malem terakhir kami di Lampung.

Setelah
diantar taksi kami nyampe juga ke Bumi Kedhaton Park. 15 menit
perjalanan. Lagi-lagi kami masih terlalu pagi tiap kali berkunjung ke
tempat wisata untuk memulai petualangan. Sesampainya disana kami
langsung masuk ke area. Pertama-tama kami berkeliling-keliling dan
take some pictures bersama biawak, kera, hariamau, berbagai jenis
ayam, harimau, beruang, and the beautifull peacock. Setelah itu kami
menuruni lembah. Untuk mencari gajah. Karena kurang lengkapnya
informasi dan ketidaktahuan kami maka pencarian gajah itupun
benar-benar menjadi pencarian gajah yang melelahkan. Tapi dengan
lingkungan dan poemandangan yang indah dan asri itu tidak kami
lewatkan untuk poto-poto. Teuteup… Hehe…
Akhirnya
ketemu juga area gajah itu, setelah berjalan naik turun bukit dan
lembah. Tapi kecewa, setelah capek-capek mencari, gajah-gajah itu
tidak ada di tempatnya. Kami pun masih berusaha mencari-cari. Tengok
sana tengok sini. Intip sana intip sini, sapa tahu gajahnya sembunyi
di lubang (emangnya lubang apa sampe gajah bisa sembunyi di
dalemnya?) dan hasilnya cuma capek. Kami berpikir bahwa sang gajah
terkena flu, pilek tiada henti-hentinya… Loh kok malah nyanyi lagu
Crayon Sinchan… 
Selang berapa lama ada salah satu petugas taman
nongol, kami pun bertanya dimana gerangan para gajah-gajah itu.
Ternyata sedang diangon, di lepas untuk mencari makan. Tidak lama
kemudian gajah-gajah itu muncul. Dmm…ddung..ddmm.. bumi bergetar.
Wuihh guedenya… setelah nyampe area gajah kami di beri kesempatan
foto bersama Seno dan Melly itu (nama-nama gajah tersebut).
Setelah
berpuas-puas dengan gajah kami siap-siap untuk pulang karena jam
sudah menunjukkan hampir jam sebelas. Untuk keluar dari tempat gajah
menuju tempat menunggu taksi pun harus bekerja keras lagi. Mendaki
bukit lagi. Ngoss..ngoss. Fyuh… Tapi tak terasa, semua seneng dan
di jalan, teuteup, take some narzis pictures. Huehehe…
Jam
setengah dua belas sudah berada di hotel lagi. Rehat bentar. Mandi.
Lalu Jumatan. Selepas Jumatan, prepared to check out from the hotel.
And then we took a lunch. Lagi-lagi cuma di sekitar hotel.
Satu
jam kemudian sudah ada di dalam taksi menuju tempat kediaman masku.
Tapi tidak langsung ke sana. Kami mampir dulu ke pantai. Duta Wisata
beach. Juz for a while. Again and again, took some pictures.
Teut
eup…
Lima
belas menit kemudian kami sudah berada di kediaman san pangeran.
Semua pada istirahat. Sore-sorean kami bertiga –aku, mbakku dan
bapak, keluar jalan-jalan sambil mencari oleh-oleh untuk dibawa
pulang besok pagi. Sepulang dari mencari oleh-oleh aku dan mbakku
mampir dulu di suatu taman deket situ. Taman Dipangga. Sekedar
istirahat. Look around. And pastinyah, poto-poto. Teuteup… Hehe…
Bersama gajah dan beruang.
Ditengah
perjalanan itu bagi diriku sendiri ada suatu kejadian yang pada
akhirnya tidak bisa membuatku nyaman diriku hingga akhir perjalanan
ini nanti berakhir. Yang pada akhirnya juga menghabiskan pulsa untuk
telepon seorang sahabat di Tangerang juz to make myself felt comfort
again, make me miss her too ^_^.
Oh
God, why did this happenned in the time like this. Mencoba tuk tetep
enjoyed. Die hard juz to make myself enjoyed. Again. No matter.
Malem
kami ngumpul-ngumpul lagi, maem-maem lagi. The last one in Lampung.
Setelah
cukup lama kami semua istirahat. Di kediaman itu kami semua tidur di
dua kamar.
And
yes, damn I hardly to slept. Because what? Beside the much annoying
mosquitos in that nite also because of the event in the evening
before. Shit..
Juz
after 1 am i could fell asleep…
5th
Day
Pagi-pagi
sudah bangun. Yup because our flight was on 9.20. Dengan nyawa masih
setengah-setengah aku mencoba untuk bangun. Huh masih ngantuk banget.
Gara-gara semalem tidur telat dan tidurnya pun tidak nyenyak.
Akhirnya
bangun juga. Keluar kamar. Masuk kamar satunya. Tidur lagi. Hehe…
An hour later i’ve
been in the taxi to the airport. It took about 40 minutes. Dan hampir
separo perjalanan di taxi itu aku tidur. Bangun-bangun sudah nyampe
airport. Tak lama kemudian tuan puteri dan pangerannya menyusul kami,
melepas kepulangan kami. Akhirnya semua selese sudah tugas-tugas itu.
Tugas mengantar tuan puteri. Tuan puteri telah bersama pangerannya.
Semua tampak biasa saja. Ekspresi pun datar. Sudah kebiasaan.
Lambaian tangan mereka mengiringi langkah kami memasuki pesawat. See
you, princess. See you, Lampung. Nice journey. Nice moments…
Tak lama kemudian kami
sudah ada di Cengkareng. Disana saudara kami sudah menunggu, sudah
menjemput kami. Akhirnya kami pun langsung menuju rumahnya.
Tiga puluh menit kami
sudah nyampe. Rumah saudara kami berada dikawasan Pluit deket Ancol.
Untuk mengisi waktu menunggu keberangkatan kami ke Klaten nanti
malam, aku dan adeaku iseng-iseng jalan-jalan ke Ancol. Juz look
around at there. Nothing special to do. Paling-paling cuma poto-poto.
Nongkrong di Carnival. Nyelem ke Sea World. And so on yang ga
penting-penting gitu. Jam tigaan lebih kami balik ke Pluit. Cukup dua
kali naek angkot.
Malam
abis Isya’ kami sudah berangkat ke Gambir. Pulang. Lumayan lama
untuk nyampe sana. Because at that night Jakarta was so crowded.
Sempet kuatir juga kalo ketinggalan kereta.
Menjelang jam sembilan
dah nyampe Gambir. Alhamdulilah tidak telat.
Jam 21.30 kereta sudah
berjalan. Kami pun meninggakan Jakarta menuju Klaten.
6th Day
We’re home….
Capek…
Untitled
Thursday July 17th 2008, 5:30 am
Filed under:
jejak ku
Hi, i’m back again. Dunno, still so much story can write, but still so lazy to write into. Capek, mungkin.
Ni aja nulis sambil megangin punggung. Masih pegel-pegel. Kangen sebenere posting-posting lagi.
Ngomongin kangen, honestly now i miss some people. Kangen Yunda (baru kemeren aja gak ketemu dah kangen..
Hehe… I will always miss you ^_^).
Kangen sahabat di Tangerang ("Ka, kangen". I still remember
the last time we met. Do you? When we travelled to the Klaten town. Muter-muter ga jelas and tiba-tiba kita tersesat di sebuah warnet yang sumpek dan panas itu).
Kangen sobat di Bandung (Kalo balik Klaten lagi bilang-bilang bro…).
Kangen sahabat juga yang jauh di sana. Do you know, do you feel that i’m missing you? Am I wrong with this feeling? But the more I remember you the more I’m loosing you. Yeah, sometimes, love just aint enough…
Yach, inilah obatnya. Sekedar nulis. Sekedar cerita. But I still dunno what I wanna write. Hehe..
Dari kemaren sih dah beberapa kali ngenet, tapi cuma cek imel, buka fs, detik-an, gugling-gugling,
chat (it’s been long time I didn’t do it.), baca-baca blog orang terutama blognya temen
mbak -Mas Idep (balebegol.blogspot.com) -hello Mas Idep, whaz up?:-) Keep posting..!
Uhmmm ini salah satu postingan Mas Idep, a simple poem that I like…
Kalah
Mengingat kamu
seperti gerimis yang berpola
Sedikit tapi lama-lama
basah kuyup juga
Mengingat kamu
adalah mawar liar seperempat
mekar
dari jauh indah
tapi begitu kusentuh
ada sedih yang meluruh
Mengingat kamu…
"Ah, memang aku yang sudah lelah
hanya saja tak mau mengaku kalah"
Yup, I’m tired and I’m loosing….
Mungkin pilihan itu ada. Dan aku memilihmu, aku telah mencintaimu. Tapi kesempatan? Kesempatan butuh waktu. Kesempatan butuh tempat. Dua hal yang tak ada disini…
Fyuuuhh…capek bangeet…pegeeeel…
Wanna go home… Juz drink a cup of hot milk trus rebahin badan dengan earphone di telinga yang mengalunkan lagu-lagu Barry Manillow… Wew..
Langsung zzZZ..Zzz..zZZzz…
Malem ni adalah malem pertama ku nginep di kost-an setelah hampir satu bulanan absen dari kost-an itu.
Detik-Detik Dalam Rute
Tuesday June 17th 2008, 7:44 pm
Filed under:
jejak ku
Akhirnya…setelah 6 tahun berjuang dengannya hari itu datang juga. Selama 189.216.000 sekon. Sungguh bilangan penantian yang amat sangat banyak. Siapa bilang cinta tidak kenal rasio
dan angka-angka?
Begitu banyak hal telah kamu alami dalam angka milyaran itu. Suka duka,
canda tawa, terbang tenggelam, pahit manis, marah tertawa, jengkel senyum -dan
yang pasti, jauh dekat.
Sebuah pilihan telah kamu ambil. Pilihan akan sebuah keyakinan yang telah
kau pupuk dalam angka milyaran itu. Selamat memasuki episode baru dalam
hidupmu. Semoga kamu dan dia bisa bahagia dalam perlindungan-Nya. Hingga hanya
maut memisahkan kalian.
Suasana dan muka-muka udah rush
untuk mempersiapkan acara itu masih saja sempet posting. Untuk Ayunda tercinta
dah di itungin lagi kan detik-detik-an of yer D-Day? Jadi ga cuma
detik-detik-an ku waktu lagi ngeteh dengan seseorang di suatu tempat itu aja
yang di itung. Kalo itu dah otomatis keitung, masuk dalam deposito waktuku
untuk dia.hwehehe
Ngomongin deposito waktu, jadi
inget deposito selama 2 bulan lebih kemarin bersama Ayunda. Masih inget ketika
blusukan di pasar, mondar-mandir Klaten-Jogja-Patangpuluhan (kalo yang ini jadi
kangen dengan seorang perempuan dengan wajah khas, tingkah laku yang lembut dan
senyum yang manis. Hehe…) , jadi keinget Pempek Ny. Kamto, Soto Pak
Sholeh, Soto Pak Tembong, Soto Pak…(yang satu ini lupa aku. Kliatan kalo kita
muke-muke soto!!!), RM Flamboyan dengan bakwan jagung yang uhmmmm…nyammmp….
Di tempat-tempat itu kita melepas laper setelah muter-muter (bukannya kalo
muter-muter itu pusing bukan laper?) dan ngobrol banyak hal, saling bercerita tentang
dia. Masing-masing dia kita. Dia-mu dan dia-ku (tapi dia-mu dia-ku juga
lho.Hayoooo terimalah kenyataan itu.Hehe… Piss) Keinget juga malem-malem makan
di selatan Alun-Alun Lor di depan SD Keputran yang harus pake lama nunggu
pesenannya datang (padahal kita pesennya ga pake lama ya…Cuma pake nasi, telor dan
lalap. Ah memang sungguh baik hati dan tidak sombong mereka berarti ya… ) dan habis itu kita ga bisa
berdiri karena tiba-tiba perut jadi buncit! Ah, sepertinya masih banyak
lagi…seperti senja hari di Terminal Jombor (kalo ini mah aku yang punya
moment. Tau kan? Haha…)
Yach, dari Utara nyampe Selatan
Jogja, dari Barat nyampe Timur Jogja rute-rute itu pasti akan selalu teringat
dan ketika melewatinya lagi aku (dan kamu) pasti akan tersenyum kembali pada
diri. Pada hati.
Selamat deg-degan Ayunda… Episode
baru itu akan segera datang. Uhmmm sebentar, 259.200 detik lagi…!!!
Semua Kelihatan Begitu Biasa
Sunday June 15th 2008, 7:14 pm
Filed under:
jejak ku
Jumat sore yang biasanya
langsung pulang ke rumah, kali ini rasanya males banget mau pulang. Aku tetep
aja stay di kost-an. Males-malesan. Menyendiri. Ngerjain hal-hal yang gak
penting. Gak mau diganggu. Cuma ada suara dari radio di headphone yang menempel
di telinga…
Kebetulan kamarku berada paling
pinggir dilantai dua di sebuah bangunan bertingkat di daerah ini. Ada sebuah
bangunan berlantai 10, berfasilitas VVIP, ada lapangan tenis, pool dan ada juga
foodcourtnya. Nha, kamarku ada 100 meter di samping bangunan itu. Hwehehe…
Sore itu di kost-an setelah
sedari pagi beraktivitas aku cuma duduk males-malesan melepas lelah sambil
mengupas kulit apel diberanda kamar.
Sebenernya gak tega menguliti
apel itu, pasti dia merasa sakit. Ah tapi salah apel itu sendiri yang tampak
begitu indah, merah merona dan montok sehingga membangkitkan nafsuku untuk menguliti
‘bajunya’ dan kemudian memakannya. Akupun memakannya dengan tidak
berperikebuahan. Nyammp, uenak…
Tapi sungguh kejammm…
Sambil menikmati apel dengan
penuh rasa tak berdosa, mataku berkelana kemana-mana. Menikmati pemandangan
sore itu. Melihat sekeliling. Matahari tinggal kelihatan separonya. Langit
sudah mulai memerah malu-malu menyambut datangnya malam.
Mataku tertuju kepada beberapa
hal. Di bawah, di pinggir jalan kulihat ada dua orang, laki perempuan dan
sepertinya pasangan kekasih sedang bertengkar. Jalanan itu pun ramai dengan
lalu lalang orang yang sedang pulang dari bekerja, kuliah, atau sekedar hang-out. Ada orang berbaju
kotak-kotak berjalan sedikit sempoyongan. Ada seorang gadis berjilbab yang ayu dengan
muka letih dan sendu (seneng duit) sedang menunggu transport –entah taksi,
angkot, ojek atau malah menunggu seseorang, tapi yang jelas bukan aku.
Semua kelihatan begitu biasa.
Tapi, siapa tahu pasangan
kekasih itu 5 menit yang lalu masih tampak mesra. Siapa tahu diantara orang
yang berlalu lalang itu ada orang yang baru saja di pecat oleh si bos, ada mahasiswa yang baru saja di tolak proposal script-nya. Siapa
tahu orang yang berbaju kotak-kotak itu sedang menderita suatu penyakit yang
belum ketemu obatnya –atau jangan-jangan cuma karena ngantuk, karena rabun
senja, atau cuma karena kacamatanya ilang. Siapa tahu gadis berjilbab itu
sedang kabur dari rumah karena di paksa nikah oleh ortunya dengan seseorang
yang tidak dicintainya dan tidak tahu mau kemana. Ke kost-an saya saja mbak. Loh…
Ah, siapa yang tahu?
Semua kelihatan biasa saja. Semua
berjalan di jalannya masing-masing.
Aku yang sedang mengamati
mereka juga tampak biasa saja.
Padahal sejak beberapa bulan
lalu di dalam diri ini sedang ada pertentangan antara hati dan pikiran. Sebuah
pertempuran yang lebih hebat dari Perang Dunia III. Emang udah ada?
Ya, pertentangan tentang suatu
hal. Suatu hal yang semestinya jika setiap orang ngerasaainnya bisa merasa
bahagia. Rasa sebagai anugerah Sang Pencipta, rasa cinta. Kenapa ada pertentangan? Ya karena pasti ada sesuatu yang tidak semestinya terjadi. Wah, udah mule mellow-mellow n’
srius.
Jeng jeng jeng….
…!!!
Saat itu, rasa cinta yang
seharusnya terungkapkan, terkatakan, hanya terpendam dalam rasa. Bukan karena
tak mampu, tapi tak mau. Di situlah terjadi pertentangan antara perasaan dan
pikiranku. Perasaan ini tak kuat menahannya. Tapi akal sehatku masih bisa untuk
menahannya. Perasaan dan pikiran saling berbisik bagai malaikat dan setan. Tapi
entah mana yang malikat dan mana yang setan. Entah mana yang benar dan mana
yang salah.
Perasaanku berbisik: “Sungguh,
ingin aku ungkapkan, ingin aku memperoleh kepastian. Aku ingin dia tahu bahwa aku juga sangat
mencintainya. Apapun yang terjadi. Aku telah hidup karenanya. Dia pantas
bahagia karena ‘ku”
Dan pikiranku berkata: “Ingat! Saat
ini dia sudah tak sendiri. Apakah jika kau ungkapkan akan baik buat kalian?
Terutama untuk dia. Jangan egois. Bukankah kamu sudah tahu dia akan sedih bila hal itu
terjadi, pengalamannya kemaren telah menunjukkan padamu hal itu bukan? Jika kamu benar mencintainya
JANGAN BUAT DIA SEDIH! Bersabarlah, Tuhan punya rahasia yang terbaik untukmu.
Dan ketika rahasia itu terungkap maka kamu akan merasa lega jika dia bukanlah
rahasia itu.”
Jegerrr…
…!!!
Tiba-tiba kaget, terbangun dari
pemikiran-pemikiran itu. Tak terasa apel di tangan sudah habis dan itu adalah
apel terakhir. Dan juga….
“aku sudah berlari
mengejar yang tak pasti
mengejar kamu.. hanya dirimu..
….
biarlah kurela
melepasmu, meninggalkan aku
berikanlah aku
kekuatan untuk lupakanmu
…”
Tiba-tiba lagu Nidji terdengar
di headphone. Pas banget…dan juga semakin mengingatkanku akan dia.
Dan semua masih kelihatan begitu biasa.
Begitu juga dengan orang-orang yang
kuperhatikan tadi. Orang-orang dengan muka bermasalah itu. Meskipun kita
mempunyai masalah masing-masing, seberapa besarnya, masing-masing akan tetap
berjalan maju. Dan ketika kita ceritakan masalah kita kepada orang lain, mereka
akan bilang “Aku tahu rasanya”. Tapi sebenarnya mereka tidak benar-benar tahu.
Karena mereka bukan dalam posisi kita. Mereka bukan kita. Tidak. Hanya saja
ambilah hikmah pengalaman orang lain itu yang merasa pernah merasakan masalah
kita. Seberapa besar masalah di kita, the world keep on moving and i’ll keep on
standing. Yak sodara-sodara sekalian, sekali lagi Ard menggunakan kata-kata
aneh yang tidak efektif dan membingungkan…
Mata akhirnya sejenak mengintai
ke dalam kamar, mencari sesuatu. Yup, akhirnya dapet. Dapet gantinya apel untuk
nemenin males-malesan. Beberapa carik kertas kemudian dipotong-potong menjadi
beberapa bagian. Ada yang gede, setengah gede, sedengan, setengah kecil dan kuecil….
dan potongan-potongan kertas itu dimainin dibuat origami, burung kertas! My
lovely. Hahaha….bener-bener gak penting banget. Yach lebih baik daripada
bengong n’ tar jadinya malah ngelamun kan? Bisa-bisa kesambet makhluk halus
yang cantik nan rupawan. Loh…
Biasanya kalo males-malesan
cuma baca buku. Tapi tidak untuk kali ini. Tapi ada alasan mengapa tidak ada
bacaan, tidak ada kerjaan, dan cuma ngerjain beberapa hal kecil yang tidak
penting itu. Yak, karena dengan kondisi itu aku bisa dipaksa berpikir kembali
tentang perasaan ini. Berpikir.
Sudah hampir jam setengah enam,
dan bentar lagi maghrib.
Ah, di waktu seperti ini –sore
menjelang magrib, adalah waktu dimana aku dulu paling banyak punya kesempatan bertemu dia, bersama
dia. Ngobrol, canda tawa, usil-usilan, makan dan kemudian sholat maghrib
berjamaah. Terlintas kembali moment-moment itu. Fiuuhh……..
Dan kini, saat ini dia telah
jauh dariku, tidak sendiri lagi.
Dan….
Ternyata sudah delapan belas
burung kertas telah slese.
Bodoh.
Dasar bodoh. Kenapa tidak lupakan saja dia. Itulah kelemahan ku. Rasa
itu sungguh yang tak dapat kutolak, rasa ketika dia datang kepadaku
untuk mencurahkan segala sesuatu yang dia tak dapat bagi kepada yang
lain. Tak bisa kutolak ketika dia datang dengan muka letih dan sedih. Rasa ini tak ingin melihat dia bersedih pada diri. Pada hati. Dan waktu telah memaksa ku
memilih jalan pikiranku. Memaksa hingga ku seperti menyakiti diri sendiri. Bodoh. Tapi keterpaksaan itu kini telah menjadi
kesabaran dan bermetamorfosis menjadi keikhlasan. Keikhlasan dalam mencintai. Tanpa
mengharap balasan. Tanpa mengharap ingin memiliki. Tapi tak ingin naif juga,
itu suatu hal yang sangat berat. Butuh waktu, komitmen dan ketelatenan.
Itulah kenapa saat ini aku
sedang berpikir. Karena yang paling kuinginkan
adalah selalu bisa melihatnya tersenyum, mendengarnya tertawa, mengetahui dia
baik-baik saja…
“….walau badai menghadang
Ingatlah ku ‘kan s’lalu
Setia menjagamu
…..”
Masih (Sahabatku Kekasihku) terdengar di radio menjadi pengiring sisa-sisa kertas origami untuk menjadi burung
kertas… Sesuatu hal yang sia-sia menjadi indah, bermanfaat.
Dan saat itu aku, mereka, dan semuanya masih saja kelihatan
biasa saja…
17:21 Yk, 060608